Posted by: sevenco on: 29 Maret 2007
Kemarin, Rabu 28 Maret 2007 tampak seperti hari biasa lain di kampus UI Depok. Perkuliahan berjalan seperti biasa, mahasiswa terlihat di berbagai sudut kampus. Sekilas tidak ada yang lain dari biasanya, tapi benarkah demikian? Ternyata ada satu hal yang tidak biasa, seorang polisi tampak berkeliling di kampus saya. Tadinya saya pikir karena hari itu sedang ada acara pengukuhan dua orang doktor menjadi guru besar tetap di FHUI. Beberapa karangan bunga, termasuk dari Ketua MA Bagir Manan serta advokat Luhut MP Pangaribuan, terlihat di pintu masuk fakultas, sehingga saya kira acara pengukuhan kali ini juga akan dihadiri orang-orang penting serta pejabat, karena itu dibutuhkan protokol keamanan yang lebih dari biasanya.
Selepas Maghrib barulah kabar itu menyebar. UI mendapat ancaman bom! Mahasiswa dan pegawai diinstruksikan segera meninggalkan kampus. Mahasiswa pun satu persatu meninggalkan kampus walaupun dengan kebingungan karena kabar yang diterima masih simpang siur. Sebagian mahasiswa, khususnya program D3 dan ekstensi, sebenarnya masih mempunyai jadwal kuliah (termasuk harus menjalani UTS). Tapi apa boleh buat, tidak ada indikasi perkuliahan akan dilanjutkan malam itu.
Sebelum pulang, saya sempat ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang lain. Beberapa dosen juga tampak berbincang-bincang di halaman kampus. Sebagian obrolan berisi candaan saling menuduh siapa yang membawa bom di antara kami, kutukan kenapa UI yang harus diancam bom padahal UI bukan mall (dan juga akibat ancaman bom ini fasilitas wi-fi internet gratis di kampus dimatikan), serta prasangka candaan bahwa mungkin ancaman bom ini dilakukan oleh anak-anak masjid yang ekstrimis :) (menyindir prasangka Barat yang menyangka semua teror didalangi oleh Islam fundamentalis). Beberapa dosen juga dengan nada bercanda mensinyalir insiden ini didalangi mahasiswa yang tidak siap mengikuti UTS (lol). Sepertinya beginilah wajah masyarakat Indonesia dalam menyikapi teror. Berbeda dengan di barat yang terkesan paranoid, rakyat Indonesia menyikapnya dengan penuh canda (meskipun mungkin hatinya tetap merasa ketar-ketir), toh negeri ini sudah sangat terbiasa dengan musibah, tidak ada yang terlalu aneh lagi.
Saya juga sempat berkeliling kampus dulu untuk melihat keadaan fakultas-fakultas lain. Keadaan memang jauh lebih sepi dari biasa, tapi tidak sepenuhnya kosong. Beberapa kendaraan baik mobil maupun sepeda motor masih terlihat parkir, seperti di FIB dan Pascasarjana FISIP. Entah informasi ini tidak menyebar rata atau mungkin karena informasi yang diterima simpang siur sehingga tidak ada protokol penanganan insiden yang terpadu di setiap fakultas.
Setelah tiba di rumah, menjelang tengah malam saya melihat beritanya di Metro TV. Diberitakan ancaman bom diterima pihak kepolisian yang kemudian menyampaikannya ke rektorat UI. Tidak diberitahukan kampus mana yang menjadi target, UI Salemba atau UI Depok, sehingga polisi harus menyisir kedua lokasi tersebut dan rektorat membubarkan kegiatan perkuliahan di keduanya. Menurut si penelepon gelap, bom akan meledak pukul 5 sore, namun ternyata ini tidak terbukti mengingat pukul 5 sore saya justru sedang pusing mengikuti kuliah Waris Islam, sama sekali belum menyadari adanya ancaman bom. Jadi seharusnya perkuliahan sore tidak perlu dibubarkan (termasuk UTS).
somehow … di fasilkom damai aja gituh …
Sedang gila? Bukannya gila adalah default?
*makan bagel lagi*
ANJRIT! Ah, ciken bisanya mah ngancam doang.. :-”
*ngeloyor*
*pasang bom di patung Djokosoetono* :-”
Ancaman Bom di hari saya sedang olimpiade ya? *cek tanggal* Euh, syenangnya… *melirik nista buku-biologi-pinjeman-dari-Miyu*
haha saya malah udah dirumah pas denger kabar itu. saya sih sedikit berharap semoga fh yang dibom biar besoknya saya ga perlu kuliah
dan sepertinya kita satu kampus..
29 Maret 2007 pada 12:59
Hare gene masih UTS?
*menyelam*