Gak punya kakek lagi. Goodbye, grandpa. You taught me how to ride a bike, how to fix things, how to make toys from just about anything we could found. You taught me to be brave, walk the outdoors through the rice fields, patches of forest and rivers, getting all dirty and muddy afterwards. You took me to kindergarten and 1st grade everyday, brought me my routine nasi-ayam goreng-kecap lunch, and picked me up after school. You inspired me to be a fighter, to never surrender, and be a survivor, a builder, and a maker, just like you were before, during and after the war. You are a living proof that longevity is achieved by keep working, and when you stopped working, your age finally catch up with you. Thank you for all our adventures, all the life lessons, all those different and creative kancil tales everyday. Thank you for all the furnitures you built for us (we still use them until now), the fish pond, the chicken coop, the pathways to our old house, the roof you fixed, the clothesline in the rooftop, and that radio you built that we used to listen to Saur Sepuh and Babad Tanah Leluhur everyday.

[This is where I had to take a pause]

I am sorry I yelled at you, I am sorry I poured salt in your mouth when you were asleep, I am sorry I have mistaken you for a servant before I learned that you are in fact the father of my father, I still carry that regret until now. And I am sorry I never visit you anymore.

Rest in peace, Atung. Nanti kita main lagi ya di sana…

View on Path

Beberapa minggu lalu, saya menerima kiriman dari Depok berupa paket berisi Sotoji. Apakah Sotoji itu? Nama ‘Sotoji’ merupakan singkatan dari Soto Jamur Instan. Memang, Sotoji ini adalah makanan instan yang mirip dengan soto. Saya sendiri sudah tidak begitu asing dengan makanan yang punya nama unik ini. Sebelumnya, saya sudah pernah mencicipi Sotoji dari sampel yang saya terima dari teman-teman di Komunitas Blogger Depok (deBlogger). Totalnya, saya menerima sampel Sotoji sebanyak tiga kali. Dalam workshop Digital Media Planning deBlogger yang diselenggarakan selama dua hari dalam minggu yang berbeda, saya menerima sampel Sotoji sebanyak dua kali. Sampel yang ketiga baru saya dapatkan beberapa minggu kemudian dalam paket yang dikirimkan ke rumah saya.

Dari tiga kali menerima sampel Sotoji tersebut, saya merasa ketiganya berasal dari batch yang berbeda-beda. Rasanya pun sepertinya agak berbeda pula. Tapi hal ini menurut saya wajar, karena katanya Sotoji masih dalam pengembangan (beta version lah, istilahnya) sehingga masih akan mengalami perubahan dengan sesuai masukan yang diberikan konsumennya.

Mereka yang pernah mencoba produk-produk dengan rasa soto dan punya bahan dari bihun rasanya dapat melihat kemiripannya dengan Sotoji. Tapi, kemiripannya hanya sampai disitu, karena Sotoji berbahan dasar sohun dan bukan bihun. Bihun sendiri terbuat dari beras, sementara sohun terbuat dari pati. Untuk merasakan langsung perbedaannya, saya mencoba kedua jenis makanan instan ini dalam rentang waktu yang dekat. Baik Sotoji maupun produk dengan bihun dapat dimasak diatas kompor ataupun dseduh dengan air panas. Karena kebanyakan produk rasa soto dengan bahan dasar bihun tidak memiliki bahan pelengkap, Sotoji tampak lebih unggul karena ia dilengkapi dengan jamur tiram goreng.

Produk bihun instan yang diuji dalam infografik.

Karena sampel Sotoji yang saya dapatkan berasal dari batch yang berbeda-beda, untuk tulisan ini, saya berpegang pada sampel terakhir yang saya terima. Saat dicicipi, rasa Sotoji tidak kalah dengan produk-produk makanan instan lain. Porsinya juga cukup mengenyangkan, apalagi bila dikonsumsi dengan nasi.

Nilai tambah yang membuat Sotoji terasa istimewa adalah kehadiran jamur tiram gorengnya. Memang, mereka yang tidak terlalu menyukai jamur akan sedikit tidak nyaman dengan aroma jamur tiramnya yang sedikit kuat. Tapi, mereka yang tidak bermasalah dengan hal itu sepertinya akan mudah untuk menerima produk ini, meski jamur tiram merupakan sesuatu yang masih asing bagi sebagian orang.

Saya sempat mencoba beberapa saran penyajian untuk jamur tiram gorengnya. Bila direbus bersamaan dengan sohunnya, seperti yang ditampilkan di belakang kemasan Sotoji, saat dimakan, jamur tiramnya masih terasa agak keras. Mereka yang tidak bermasalah untuk mengunyah jamur yang masih sangat kenyal ini mungkin tak keberatan dengan teksturnya yang masih lumayan padat. Tapi, mereka yang lebih suka menikmati jamur tiram yang lebih empuk dapat merebusnya terlebih dahulu sebelum sohunnya dimasukkan. Merebus jamur tiramnya selama satu atau dua menit sebelum memasukkan sohun akan membuat jamur tiramnya lebih lunak. Saya sendiri senang menikmati jamur tiramnya dalam keadaan tidak direbus. Jamur tiram goreng yang berada dalam kemasannya tetap enak dikonsumsi tanpa diolah karena rasanya sudah renyah dan gurih. Selain bisa ditaburkan diatas sohun yang sudah direbus dengan bumbunya, jamur tiram goreng ini bisa juga dijadikan cemilan tersendiri.

Yang kurang dari Sotoji mungkin adalah rasa bumbunya yang kurang dapat meresap pada sohunnya. Karena itu, saya sendiri lebih senang menyajikan Sotoji dengan kuah yang tidak begitu banyak, sehingga rasanya menjadi lebih kuat. Yang menurut saya menarik, banyak teman-teman yang otomatis menjadi koki eksperimental bila melihat Sotoji. Meski rasa asli Sotoji memang sudah enak, banyak yang jadi penasaran bagaimana rasa Sotoji bila dicampurkan dengan berbagai bahan pangan lain. Saya sudah mencobanya dengan memasukkan telur, tomat, tauge, daging ayam, daging sapi, dan berbagai bahan lain. Selain membuat tampilan Sotoji menjadi lebih cantik, bahan tambahan ini juga membuat rasanya semakin kaya. Mengingat bahwa Indonesia punya berbagai macam jenis soto, sepertinya eksperimen yang bisa dilakukan dengan Sotoji bisa jadi lebih banyak lagi.

Oh ya, karena postingan yang panjang sepertinya kurang atraktif untuk diperlihatkan pada orang-orang, sama seperti Sotoji yang membuat saya menjadi kreatif dengan penyajiannya, data-data yang saya temukan saat menggali informasi tentang Sotoji juga ikut saya kreasikan menjadi sebuah infografik. Beberapa informasi tentang Sotoji yang saya anggap menarik ada dalam infografik ini. Kalau produsen Sotoji, PT Tri Rastra Sukses Sejahtera, ingin menggunakan infografik ini untuk membantu pemasaran Sotoji, tentu saja saya tidak keberatan. Apalagi, menurut saya Sotoji punya prospek cukup menjanjikan.

Semoga Sotoji nantinya menjadi produk yang sukses di pasaran. Saya sendiri berencana untuk menjadi pelanggan setianya. Tentunya, kalau nanti saya dikirimi sampel Sotoji lagi, saya pasti akan membagikannya pada teman-teman yang belum pernah mencicipinya. Oh ya, ini dia infografik yang saya buat (klik untuk memperbesar gambarnya). Semoga bermanfaat.

Image

Full Disclosure: Posting blog ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Sotoji yang diselenggarakan Sotoji bekerja sama dengan Komunitas Blogger Depok (deBlogger). Penulis memperoleh sampel gratis dari Sotoji untuk keperluan review.