Pagi dan Lift

Saya selalu membuka kembali pintu lift yang sedang menutup agar orang lain yang terlambat sepersekian detik mendatangi lift bisa ikut. Walaupun mungkin orang lain di dalam akan memandang sebal pada saya, ucapan terima kasih dari mereka yang saya bukakan pintu cukup menghibur saya. Saya kadang menahan pintu jika ternyata hanya saya sendirian yang menggunakan sebuah lift, melihat apakah ada orang lain yang akan datang dan ikut. Saya tidak pernah sengaja menutup lift untuk orang lain yang ingin turut menggunakan, maupun agar saya bisa menggunakan lift sendirian untuk saya saja.

Karena itu saya merasa sangat kecewa jika orang lain tidak membukakan pintu lift yang sedang menutup untuk saya, meskipun jelas-jelas saya sudah berada di depan pintu. Pada kondisi normal jika pintu belum terlalu menutup, saya akan menahan paksa pintu itu dengan tangan saya agar membuka kembali, namun ada kalanya saya tidak berani menahan karena takut terjepit. Jika sudah begini, yang saya lakukan hanya memandang orang di dalam dan hanya berharap mereka tergerak untuk membukakan pintu lagi.

Tapi kadang itu tidak terjadi. Seperti pagi ini, dua lift membuka dan saya bergerak ke satu di antaranya yang agak jauh (karena lift ini akan lebih cepat tiba di lantai tujuan saya daripada lift yang lain), namun orang pertama yang menaikinya segera menekan tombol untuk menutup pintu dan lift segera menutup tepat ketika saya baru sampai di depannya. Orang di dalamnya tidak mau membukakan meskipun melihat saya hendak menaiki liftnya. Baiklah, tidak masalah, saya tinggal naik ke lift satunya lagi. Namun ketika saya mendekatinya, lift tersebut kembali menutup dan orang-orang di dalamnya hanya memandang saya tanpa tergerak membukakannya untuk saya. What is wrong with people nowadays?

Baiklah, tidak masalah *mengatur napas*, masih ada lift lain yang akan turun, selalu begitu pada akhirnya.

4 comments
  1. ..dan kalau ngga lagi butuh banget, mending ngga usah naek lift sekalian :-”

    Sekalinya ngeblog, malah bahas lift. How cute :-“

  2. calupict said:

    Lift adalah kebutuhan sehari-hari saya *malas ke lantai 5 pake cara manual*

  3. herda said:

    Aih, sayah mah kalau naik lift ga mainin pintunya. Masuk aja, terus minta tolong pencetin no lantainya sama orang yang deket pencetan, abis itu yauda, tunggu deh sampe naik :D

    Masalah kalau ditinggal kayak kejadian abang mah.. yah, nasib aja dah itu. Kecuali kalo itu lift kosong yah, baru deh gwe dongkol. Cuma sendirian aja pake ga mau nungguin –; Tapi kalo rame, meskipun ga penuh, gwe sih mendingan ditinggalin aja. Malah kdang gwe nolak. Abisnya ga enak naik rame-rame. Soalnya sayah kan phobia sempit. Sayah bisa stress kalo penuh” dengan orang ^^;;

  4. Erwan said:

    Wah..
    Saya mlh bngung gmn cr mnggunakn lift dr prtma ddpn pntu dan tmbol2 ap aj yg hrus dpencet.
    Dr pertama buka, nutup lift, dan tujuan.
    Ksh tw d0nx..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: